Investasi pertanian masih stagnan

TWITTER
FACEBOOK
Bisnis Indonesia | 22-08-2011
OLEH SEPUDIN ZUHRI

JAKARTA: Kementerian Pertanian memperkirakan investasi di sektor pertanian pada tahun depan tidak akan jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya akibat masih terkendala soal lahan.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan nilai investasi di sektor pertanian pada 2010 mencapai Rp19 triliun dan diproyeksikan stagnan pada tahun ini.

Meskipun beberapa rencana investasi sudah direalisasikan pada tahun ini, tuturnya, dampaknya baru akan dirasakan dalam beberapa tahun ke depan dan tidak langsung menyumbang ke dalam produk domestik regional bruto (PDRB).

Dia mengatakan APBN idealnya dapat mendorong produksi dan investasi. Namun, menurut dia, APBN 2012 tidak banyak berubah dibandingkan dengan format 2011, di mana program subsidi atau bantuan langsung masih dominan.

Bayu menambahkan investasi pertanian pada tahun depan tidak akan jauh berbeda dengan realisasi pada tahun ini. Kondisi ini disebabkan investasi pertanian masih terbatas pada lahan, sementara pembangunan pabrik pengolahan masih rendah.

"Pada 2012 masih pada angka yang sama, kendala utama masih soal lahan. Investasi tahun ini minimal sama dengan realisasi pada 2011," ujarnya pekan lalu.

Dia memperkirakan anggaran Kementan sebesar Rp17,8 triliun pada 2012 akan menghasilkan PDRB sektor pertanian  sebesar Rp800 triliun atau 45 kali lipat dari anggaran tersebut.

"APBN sektor pertanian mampu menjadi pengungkit produksi pertanian. Ada tiga faktor penentu yang akan menentukan seberapa kuat alokasi APBN ini menyumbang ke PDRB, yakni teknologi, waktu, dan lokasi," ujarnya.

Sebagai contoh, tutur Bayu, anggaran Kementan pada 2011 sebesar Rp16,7 triliun mampu menghasilkan PDRB pertanian senilai Rp760 triliun atau naik 45 kali lipat dari alokasi APBN. PDRB pertanian tersebut tidak termasuk sektor kehutanan dan perikanan.

Sementara itu, anggaran Kementan 2010 sebesar Rp9 triliun mampu menyumbang PDRB pertanian sebesar Rp739 triliun atau naik 82 kali lipat dari anggaran yang dialokasikan.

Menurut dia, pertumbuhan PDRB pertanian pada 2012 sekitar 3% dibandingkan dengan tahun ini. "Jadi, APBN itu fungsinya mengungkit kegiatan lain, sehingga mendorong PDRB," ujarnya.

Investor China
Terkait dengan investasi, investor China berminat menanamkan modal di sektor pertanian dan peternakan di Lampung, khususnya ubi jalar dan peternakan berupa penggemukan ternak sapi. 

Steven Law, calon investor dari China, mengungkapkan pihaknya bersama dengan beberapa pengusaha asal China menjajaki investasi di kedua bidang itu dengan mengunjungi sejumlah lokasi di Lampung. "Khusus ubi jalar dapat dikembangkan sebagai tepung pengganti gandum yang saat ini masih diimpor," katanya di Bandar Lampung pekan lalu.

Steven, yang hadir bersama sejumlah pengusaha asal China dan rombongan tim yustisia bidang komersial yang diketuai Muladi, mengatakan selain membuka lahan pertanian ubi jalar, investor China juga akan mendirikan pabrik pengolahan termasuk mendirikan pabrik pupuk.

Dia menjelaskan pengusaha yang tergabung dalam Integrate Agriculture Complex membutuhkan 7 juta ton ubi jalar per tahun untuk membuat tepung. Asosiasi itu menargetkan 1,8 juta ton tepung terigu dapat digantikan dengan tepung dari ubi jalar atau sekitar 25%. 

Steven menjelaskan areal pertanian seluas 200.000 ha, dapat menghasilkan 120.000 ton ubi jalar per tahun. Kondisi itu masih jauh dari target yang diharapkan sebanyak 7 juta ton ubi jalar per tahun.

Selain Lampung, pihaknya juga menjajaki investasi di bidang pertanian, khususnya tanaman ubi jalar di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah dan daerah lainnya.

Bupati Waykanan Bustami Zainuddin, dalam kesempatan itu mengatakan Waykanan memiliki lahan pertanian seluas 400.000 ha dan dapat digunakan untuk budi daya ubi jalar. Selain itu, lahan hutan tanaman industri seluas 60 ha di kabupaten itu juga dapat dimanfaatkan untuk tanaman ubi jalar.
Original source: Bisnis Indonesia
TWITTER
FACEBOOK
TWITTER
FACEBOOK

Post a comment

Name

Email address (optional - if you want a reply)

Comment