Perampasan Tanah: Sebab, Bentuk dan Akibatnya bagi Kaum Tani

TWITTER
FACEBOOK

AGRA | Jakarta, 24 September 2010

Disusun oleh Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA)

Email: [email protected]

Pengantar

Risalah ringkas tentang situasi agraria nasional dan hubungannya dengan krisis umum imperialisme ini, bermaksud menjelaskan beberapa masalah penting yang perlu diketahui oleh kaum tani Indonesia dewasa ini dalam rangka memperjuangkan hak atas tanahnya. Pusat perhatian risalah ini adalah mengenai perampasan tanah (land grabbing) yang hari ini telah menjadi sorotan banyak kalangan.

Dalam risalah ini yang dimaksudkan dengan kaum tani adalah mereka yang pada pokoknya menggantungkan kehidupannya dari pengolahan tanah seperti bercocok tanam (pertanian), perkebunan, perladangan menetap maupun berpindah, serta memungut hasil hutan, meramu, dan berburu. Dengan pengertian semacam ini, maka kaum tani yang dimaksudkan dalam risalah ini dapat mencakup apa yang biasa dikenal sebagai (1) kaum tani (peasantry), yang dalam kepustakaan biasa disebut tani tak bertanah (landless peasant) dan tani berlahan sempit atau tani gurem (small farmers), maupun (2) masyarakat adat atau suku bangsa minoritas (national minority), dan (3) nelayan.

Berdasarkan data yang tersedia pada saat ini, maka ketiga golongan masyarakat ini merupakan penduduk Indonesia yang jumlahnya terbanyak (mayoritas) dari total jumlah penduduk Indonesia yang pada saat ini berjumlah 238 juta jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia oleh Biro Pusat Statistik Republik Indonesia, pada bulan Mei 2010). Oleh karenanya, tepatlah jika kita menjelaskan bahwa negeri Indonesia adalah negeri agraris, sejalan dengan kenyataan di atas.

Guna memudahkan memahami risalah ini, maka pertama-tama akan dijelaskan mengenai situasi atau keadaan di mana kita hidup, yakni di masa imperialisme sedang mengalami krisis, terutama krisis finansial, krisis pangan dan krisis energi. Oleh karenanya penjelasan mengenai situasi yang terjadi hari ini, yaitu krisis umum imperialisme akan mengawali risalah ini. Setelah itu, akan dijelaskan mengenai dasar-dasar serta latar belakang mengapa perampasan tanah terjadi dan apa saja bentuk-bentuk perampasan tanah yang terjadi terutama dalam masa pemerintahan rezim Susilo Bambang Yudhono (SBY) selama periode 2004 sampai dengan 2010. Risalah ini selanjutnya akan menjelaskan bagaimana mekanisme atau metode perampasan tanah yang terjadi dalam masa enam tahun terakhir ini (2004-2010), yang mengatur atau melegalkan perampasan tanah. Akibat dari perampasan tanah yang terjadi terhadap kehidupan rakyat pada umumnya dan kaum tani pada khususnya, akan menjadi bahasan selanjutnya. Risalah ini akan diakhiri dengan sejumlah kesimpulan dan sikap yang diambil oleh penyusun risalah atas perampasan tanah, kekerasan terhadap kaum tani dan monopoli tanah.

Full report (DOC file)

_____________________

The AGRA paper on land grabbing describes the current crisis of imperialism and its relation to the land grabs especially in the agricultural sector to produce food and in the plantation sector to produce agrofuels. Aside from this description of land grabbing in Indonesia, the paper also discusses about the peasant struggle for land rights and land reform and the violation of human rights related to the current land grabbing. The land grabbing activities which been covered in this paper is focus on the years of 2004-2010, to show that the current Indonesian administration is the puppet of imperialism.

-- AGRA (Alliance of Agrarian Reform Movement Indonesia)
Original source: AGRA
TWITTER
FACEBOOK
TWITTER
FACEBOOK

1 Comments


  1. Acicgluch
    28 Jan 2011

    czemu nie:)

Post a comment

Name

Email address (optional - if you want a reply)

Comment