Aparat dan Asiatic Persada Kembali Represi Suku Anak Dalam, Satu Tewas

Mongbay Indonesia | March 6, 2014

Aparat dan Asiatic Persada Kembali Represi Suku Anak Dalam, Satu Tewas

Jogi Sirait, Jambi

Korban tewas akibat kekerasan aparat dan keamanan PT Asiatic Persada. Foto: Perkumpulan Hijau

Sekitar Pukul 22.30 tanggal 5 Maret 2014 silam, empat orang duduk santai di dekat ruangan perawat di Rumah Sakit Bhayangkara Jambi. Satu orang berseragam putih-putih, sisanya bersetelan kaos dan safari. Mongabay-Indonesia yang hendak menjenguk seorang pasien bernama Pujiono, 40 tahun dilarang. “Maaf Pak, besok saja, harus mendapat izin dari pimpinan kami,” kata seorang pria bersafari hitam.

Seperempat jam kemudian, para perawat tiba-tiba panik. “Jatuh, jatuh, pasiennya jatuh. Cepat angkat,” kata seorang perawat wanita.  “Tadi dia masih tidur nyenyak. Baru 15 menit saya tinggal,” kata seorang perawat bernama Yoko. Setelah berusaha memberikan bantuan oksigen, sekitar jam 23.02, Pujiono dinyatakan wafat.

Menurut pihak rumah sakit, Pujiono datang pada jam 19.45. Diantar dua orang sekuriti PT Asiatic menggunakan mobil ambulance perusahaan. “Mereka langsung pergi. Karena pihak keluarga belum ada yang datang kami belum berani mengambil tindakan. Termasuk selang infus belum kami pasang,” kata seorang staf rumah sakit yang tak mau disebutkan namanya.

Sejumlah korban luka akibat kekerasan aparat dan satuan pengamanan Asiatic Persada. Foto: Perkumpulan Hijau

Pujiono dirawat di ruangan isolasi, Anggrek 4. Dia terjatuh dari tempat tidur dengan borgol terlepas dari tangannya serta kaki yang masih terikat kain putih. Sekujur badannya lebam-lebam. Mukanya dipenuhi cucuran darah yang belum dibersihkan. Matanya terluka parah.

Pujiono merupakan korban pengeroyokan aparat TNI dan sekuriti PT Asiatic. Dia sempat tak diketahui keberadaannya sejak sore hingga baru mendapat kabar keberadaanya beberapa menit menjelang ajal.

Salah satu kondisi korban. Foto: Perkumpulan Hijau

Menurut Agus Pranata dari Serikat Tani Nasional (STN), tindakan represif tersebut bermula pada jam 15.12 ketika Titus, 26 tahun, seorang warga Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari dijemput paksa dan sempat diseret dari rumahnya. Rumah Titus didatangi satu mobil patroli bertuliskan Sat Binmas Polres Batanghari jenis Grand Max dan empat orang anggota berseragam TNI yang mengendarai motor.

“Mana yang namanya Titus. Ayo kita ke kantor sekarang juga,” kata Beno, 28 tahun kakak kandung Titus menirukan ucapan aparat keamanan itu. Para polisi tidak turun dari mobil. Hanya aparat TNI yang turun dan berbicara dengannya. “Kami tak mampu menahan mereka membawa Titus. Mereka sempat menembakkan senjata api ke udara. Kami takut sekali,” kata Beno kepada Mongabay Indonesia pada 5 Maret lalu.

Dalam perjalanan, beberapa warga, kata Beno, sempat melihat Titus diturunkan dan digebuki ketika mobil baru bergerak  1 kilometer dari rumahnya. Titus dibawa ke kantor PT Asiatic. Jaraknya sekitar 12 kilometer dari rumah Titus.

Kondisi pengungsian Suku Anak Dalam. Foto: Perkumpulan Hijau

Mendengar kabar Titus “diculik”, pada pukul 16.10, ratusan warga dan keluarga korban datang menjemput namun diadang puluhan aparat berseragam TNI dan sekuriti perusahaan. Aparat TNI lengkap menggunakan senjata laras panjang, sementara sekuriti menenteng samurai dan senjata tajam lain.

Pada pukul 16.30 saat mendekati kantor perusahaan di Desa Bungku beberapa petani Mentilingan dan warga Suku Anak Dalam dipukuli. Akibatnya lima orang warga: Yanto bin Syamsudin (31 tahun), Dadang bin Daud (56 tahun), Adi bin Sulaiman (24 tahun), Khori Khuris bin Khuris (71 tahun), dan Ismail bin H. Sanusi (38 tahun) mengalami luka serius. Kelima orang tersebut kini dirawat di RSUD Raden Mattaher, Jambi. Sementara, Pujiono, 40 tahun tewas. Sedangkan nasib Titus hingga berita ini diturukan tak diketahui persis dimana keberadaannya.

“Aparat juga sempat memberondong kami dengan tembakan, baik ke udara, ke bawah, bahkan ada sepeda motor yang tertembak. Itu artinya mereka memang mau membunuh kami sekaligus menakuti kami,” kata seorang korban, Khoris Khuris kepada Mongabay Indonesia pada 5 Maret lalu.

Pada tahun 2003- lokasi yang akan diserahkan PT Asiatic kepada warga Bathin Sembilan berada di dua lokasi (diarsir warna hijau) Dokumen SETARA

Kelima orang tersebut ada yang mengalami luka memar di pundak, tangan, punggung, tumit, betis, dan beberapa anggota tubuh lainnya. Sebagian besar terluka akibat sabetan samurai dan pukulan rotan. “Punggung saya masih sakit sekali rasanya,” ujar Khori Khuris.

Seingat Khori, warga langsung kocar-kacir begitu diberondong tembakan. “Saya dan Pujiono berada di bagian paling depan. Sayang kami tak sempat menyelamatkan dia. Sejak itulah kami kehilangan Pujiono. Kalau tak salah jumlah mereka banyak, 20an anggota TNI dan 40an sekutiri perusahaan. Saya juga ingat rombongan perusahaan dipimpin Dominus, satpam PT Asiatic,” Khori menegaskan.

Khori mengatakan, Pujiono dikeroyok habis-habisan. Dia sempat beberapa jam tak diketahui keberadaannya. Beberapa warga sempat melihat Pujiono dibawa menggunakan mobil ambulance perusahaan ke arah Jambi.

Sampai tadi malam sekitar jam 22.20, seorang warga bernama Erwin, 31 tahun mengabarkan kepada Mongabay-Indonesia masih mendengar empat kali tembakan di sekitar lokasi pengungsian warga Suku Anak Dalam. “Kami sangat ketakutan, terutama kaum perempuan,” katanya.

Hingga kini sekitar 700 jiwa warga Suku Anak Dalam dan petani Mentilingan masih bertahan di lokasi Transmigrasi Sosial 1, Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari dengan mendirikan terpal-terpal seadanya sebagai tempat tinggal sementara. “Kami masih menunggu proses mediasi dan penyelesaian konflik dari pihak perusahaan,” kata Agus Pranata.

Namun pada 3 Maret lalu, ketika Direktur Utama PT Asiatic, Juamanli yang diundang DPRD Provinsi untuk dengar pendapat bersama warga Suku Anak Dalam menolak melaksanakan rekomendasi BPN RI dan Komnas HAM untuk mengukur ulang lahan HGU perusahaan. Juamanli secara tegas menolak mengukur ulang termasuk membiayai pengukuran tersebut.

Sementara Wakil Ketua Komisi II DPRD Provinsi Jambi, Halim kembali menegaskan agar perusahaan menghormati rekomendasi tersebut. Jika tidak berkenan mesti dibuatkan dalam pernyataan tertulis. Alhasil, hearing itu deadlock.

Peta lahan milik masyarakat. Silakan klik untuk memperbesar peta.

Bagi Agus Pranata, tindakan represif yang dilakukan PT Asiatic hingga jatuh korban jiwa adalah bentuk kesewenang-wenangan aparat sehingga rakyat menjadi korban. Ini juga merupakan bentuk pengabaian pemerintah padahal kasus ini dalam proses mediasi.

“Niat baik perusahaan untuk menyelesaikan konfliknya tampaknya tak ada lagi. Para preman yang membawa senjata tajam juga dibiarkan begitu saja, tidak dilucuti oleh aparat keamanan. Ini sama artinya mereka mengajak perang bukan berniat menyelesaikan konflik,” kata Agus. Agus juga menyayangkan pihak rumah sakit yang menelantarkan Pujiono hingga akhirnya wafat tanpa melakukan tindakan penyelamatan apapun. “Rumah sakit itu tak manusiawi,” Agus menegaskan.

Pihak Polda Jambi belum bisa dihubungi. Nada ponsel Kabid Humas Polda Jambi, AKBP Almansayah bernada tak aktif.

URL to Article: https://farmlandgrab.org/post/view/23234

Source: Mongabay Indonesia 
http://www.mongabay.co.id/2014/03/06/aparat-dan-asiatic-persada-kembali-represi-suku-anak-dalam-satu-tewas/