Wilmar makin agresif di perkebunan
Kontan | 25-02-2012

Wilmar makin agresif di perkebunan

Muhammad Yazid, Bernadette Ch. Munthe

JAKARTA. Lonjakan harga komoditas perkebunan seperti kelapa sawit mendorong pendapatan bisnis Wilmar International Ltd.

Walau volume penjualan minyak sawit dan laurics (salah satu produk turunan minyak sawit) menurun 2,5% dari 20,82 juta ton pada 2010 menjadi 20,3 juta ton pada 2011, nilai dari produk ini naik 36,2% dari US$ 16,82 miliar menjadi US$ 22,91 miliar.

Dalam laporan keuangan 2011 yang belum diaudit dan dirilis 22 Februari 2012 disebutkan, Wilmar berhasil mencatat kenaikan pendapatan 47,21% dari US$ 30,37 miliar menjadi US$ 44,71 miliar. Laba bersih perusahaan juga meningkat 20,9% dari US$ 1,32 miliar menjadi US$ 1,6 miliar.

Melihat porsi pendapatan yang besar dari bisnis perkebunan, tak heran jika Wilmar melalui anak usahanya di Indonesia, PT Wilmar Nabati Indonesia terus berusaha mengembangkan sayap bisnisnya. Tak hanya kelapa sawit, Wilmar juga berniat mengembangkan perkebunan tebu di Merauke, Papua. "Pemerintah butuh investasi untuk peningkatan ekonomi dan kami butuh lahan luas untuk membuat perkebunan," kata Max Ramajaya, Manajer Umum Pengembangan Bisnis Wilmar Nabati Indonesia kepada KONTAN, Kamis (23/2).

Kendala izin
Max mengaku, perusahaannya terus memproses izin pengembangan lahan di Merauke. Sebab, setelah diajukan pada 2010, sampai sekarang izin itu belum keluar. Proses perizinan lambat, menurut Max, karena belum terbitnya Peraturan Daerah (Perda) tentang Rancangan Tata Ruang dan Wilayah Provinsi Papua sehingga sampai sekarang berkas perizinan masih tertahan di Pemprov dan belum diserahkan ke Kementerian Kehutanan.

Oleh karena itu, ia berharap pemerintah pusat mengambil peran menyelesaikan persoalan izin. Menurutnya, tidak hanya Wilmar yang mengalami hambatan ini, tetapi juga perusahaan lain yang hendak membuka perkebunan. "Kami berharap izin bisa secepatnya terbit," ujarnya.

Pada 2010, Wilmar telah mengutarakan niat membuka perkebunan tebu seluas 200.000 hektare di Papua dengan investasi US$ 2 miliar. Selain di Papua, Wilmar juga tengah menjajaki kemungkinan mengembangkan bisnis perkebunan tebu di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebenarnya, tak hanya di Indonesia saja, Wilmar Internasional berniat mengembangkan bisnis perkebunan. Saat ini Wilmar International tengah fokus pada perluasan lahan di Afrika. "Itu sebagai diversifikasi bisnis," katanya.

Walau perusahaan holding fokus ke Afrika, Max yakin tidak akan mengganggu bisnisnya di Indonesia. Apalagi ekspansi ke Afrika dilakukan sejak enam tahun lalu. Beberapa negara yang disasar antara lain, Uganda, Ghana, Ethiopia, dan Pantai Gading.

Wilmar International selain bertumpu pada bisnis perkebunan juga memiliki segmen bisnis merchandising and processing. Di sektor ini, pendapatan tercatat naik 31,8% dari US$ 26,99 miliar pada 2010 menjadi US$ 35,58 miliar pada tahun 2011.

Dalam laporan keuangan disebutkan, kenaikan pendapatan diiringi peningkatan biaya penjualan dan distribusi sebesar 72,8% dari US$ 1,13 miliar menjadi US$ 1,96 miliar. Kenaikan dipicu kenaikan tarif muatan dan ongkos transportasi terutama bea keluar (BK) CPO yang mencapai 18,7% per bulan pada 2011, dari 5,7% pada 2010.

"Meskipun margin di Indonesia membaik, minyak sawit dan laurics mencetak penurunan keuntungan karena kinerja di China, Eropa dan Malaysia menurun," kata Kuok Khoon Hong, Chief Executive Officer (CEO) Wilmar Internasional.
URL to Article: https://farmlandgrab.org/post/view/20857

Source: Kontan 
http://epaper.kontan.co.id