Pemerintah dan Bank Dunia Membikin Kebun Tebu
Kontan | 13-02-2010

Pemerintah dan Bank Dunia Membikin Kebun Tebu

JAKARTA. Pemerintah pusat, Pemerintah Daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Bank Dunia, dan Pemerintah Korea Selatan (Korsel) akan bekerjasama mengembangkan perkembangan tebu seluas 17.000 hingga 35.000 hektar di Kabupaten Benar Meriah, Banda Aceh. Mereka akan memulai proyek tersebut tahun ini, untuk memasok tebu ke pabrik gula dan produsen bioethanol.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementerian Pertanian Achmad Manggabarani mengatakan, pekan ini Pemerintah Provinsi NAD, Pemerintah Kabupaten Benar Meriah, dan Bank Dunia, akan meneken nota kesepahaman (MoU) untuk pengembangan industri tebu. "Cuma, berapa rencana nilai investasinya, saya belum tahu," kata Manggabarani, kemarin (12/2).

Ia menambahkan, setidaknya akan membutuhkan waktu dua tahun sampai proyek ini mampu berproduksi. Soalnya, proses penanaman tebu dan pembibitan membutuhkan waktu sedikitnya dua tahun untuk bisa panen.

Menurut Manggabarani, tebu merupakan tanaman semusim tapi, dari mulai tanam sampai produksi membutuhkan waktu tahunan. Makanya Kementerian Pertanian akan mengirimkan tim ke Aceh untuk mengecek iklim dan lahan perkebunan yang disediakan untuk proyek ini.

Peninjauan ini penting karena idealnya lahan yang disediakan berada 400 m di atas permukaan laut. "Harus dicari varietas tebu yang cocok untuk dataran menengah dan tinggi," kata Manggabarani.

Untuk mempercepat produksi, Kementerian Pertanian juga akan mencoba teknik budidaya dengan kultur jaringan atau memperbanyak tanaman dengan vegetatif.

Manggabarani mengatakan pengembangan kebun tebu di Benar Meriah ini tidak masuk dalam proyek cetak biru untuk mencapai swasembada gula 2014. "Ini proyek yang terpisah, karena sebagian tebu hasil kebun akan digunakan untuk pabrik bioethanol," katanya.

Sebelumnya pemerintah menjanjikan sejumlah insentif bagi investor industri gula. Misalnya pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) bagi pengusaha yang bikin pabrik di luar Jawa, dan fasilitas bea masuk (BM) pengadaan alat.

Uji Agung Santosa
URL to Article: https://farmlandgrab.org/post/view/20839

Source: Kontan 
http://epaper.kontan.co.id